Rabu, 21 Agustus 2019

MUKTAMAR PERTAMA: FORKA MELAHIRKAN KEBIJAKAN STRATEGIS DALAM BERDAKWAH


Oleh: Sunardin PKM/23, Peserta Muktamar,


Sejarah keberadaan FORKA, di warnai oleh banyak tantangan sejak berdirinya sekitar tahun 2007/2008 lalu, di antaranya adalah  program kerja tidak berjalan, problematika di tingkat pengurus karena jarak, waktu dan kesibukan masing-masing. hingga Tahun 2016/2017, maka atas inisiatif dari beberapa anggota dan atas arahan Pimpinan KODI DKI JAKARTA, maka FORKA ini di rapihkan kembali dengan format kepengurusan baru, setelah para alumni berkumpul maka di tentukanlah siapa yang menahkodai FORKA ini, maka terpilihlah Ust. Imran dan ust, Ahmad Fathony sebagai ketua dan wakilnya, lagi-lagi FORKA mendapat gonjangan di saat saat perapihan program kerja dan perapihan kepengurusan,  ust. Imran sebagai ketua FORKA  mengundurkan diri di kepemimpinannya yang baru berumur jagung dengan alasan mengundurkan diri karena kesibukannya sebagai PNS.

Sehingga kepemimpinan limpahkan kepada Ust. Ahmad Fathony sebagai ketua umum, saat kepemimpinan inilah kepengurusan di rapihkan dan banyak berkoordinasi dengan alumni lintas angkatan juga koordinasi intensif dengan pimpinan KODI, kepengurusan ini di bantu Ust Khairul Hadi Nasution ketua satu, oleh ust. Rakimin Al Jawie ketua dua, dan  ust. Sunardin sebagai sekjen wakil sekjen ustadzah Farida Listuti di bantu ustdzah Syarifah, bendahara Ustadzah Aminurohmah wakil bendahara ustadzah Qodriah dan Nurudin PKM 23, hingga tahun 2019 ini, di bawah kendali ust Fathony dan kawan-kawannya tidak terlepas dari tantangan namun tantangan di era ust Fathony ini tidak begitu banyak karena para pengurus dan para alumni sudah mulai solid program kerja berjalan aktif.

Era kepemimpinan ini, melahirkan program unggulan dengan dengan dukungan penuh dari pimpinan KODI, di antaranya adalah Dakwah di lingkungan khusus seperti di LAPAS, RUMKIT, PANTI SOSIAL, dan RUSUN, dakwah di lingkungan khusus ini banyak di respon positif oleh pihak terkait dan masyarakat secara umum.

Melihat tantangan dan kebutuhan dakwah semakin banyak, maka perlu kiranya FORKA ini di melakukan pembaharuan di semua aspek termasuk di dalamnya agenda kerja serta susunan kepengurusan perlu rapihkan, dan nama FORKA yang sejatinya perlu di rubah di sesuaikan dengan perkembangan keadaan saat ini, berdasarkan masalah ini,  maka lahir keputusan bersama pimpinan KODI, agar di adakan MUKTAMAR, karena hanya di MUKTAMAR perubahan perubahan itu di lakukan, lebih kurang dua minggu para panitia  penyiapkan segala hal terkait MUKTAMAR ini.

Acara Muktamar  Pertama FORKA (Forum Komunikasi Alumni PKM KODI) berlangsung khidmat di laksanakan satu hari penuh di hadiri oleh 70 peserta terdiri dari, staff dan Pimpinan KODI,  perwakilan angkatan pertama hingga angkatan terakhir, hari selasa tanggal 20 Agustus 2019 menjadi saksi berkumpulnya para Alumni PKM KODI mulai perwakilan alumni angkatan pertama hingga alumni angkatan 25, tidak terasa bahwa KODI DKI dengan kerja keras dari para pengurusnya melahirkan kurang lebih 1200  Da’i dan Da’iyah yang keberadaan mereka tetap eksis berdakwah hingga saat ini, pergerakan para alumni bukan saja di bidang dakwah namunn semua bidang mereka masuk, mereka berkeyakinan ketika dulu pendidikan di KODI DKI, apapun bidangnya, apapun pekerjaannya nilai nilai Islam tetap terpatri di dalamnya, maka kita tidak heran para ulumni ini menjadi contoh  di terapkan karakter/ nilai nilai Islami sebagai ruh dalam segala amaliah di kehidupan sehari-hari.  

Acara Muktamar ini berlangsung di MARC HOTEL PASAR BARU JAKARATA, di pandu oleh ust, Ahmad Fadhilah angkatan 23 sebagai MC beliau salah satu da’i berbakat yang di lahirkan oleh KODI DKI, pembukaan dimulai dengan mengagungkan Asma Allah (Bismillahirrahmaanirrahiim) dan sama sama membaca surah Al Fatihah,  di lanjut dengan Qori membacakan beberapa ayat di surah ke 21 Al Ambiya dan satu ayat di surah ke 59 Al Hasyr ayat 18, pesan penting ayat ini adalah agar para aktivis dakwah meninggalkan segala sikap keegoan mereka, ego angkatan, ego jabatan, dan ego berdasarkan kebesaran nama dan umur, semua itu kita tinggalkan, mari memantapkan hati semangat perjuangan dalam dakwah jamiyah, serta fokus mempersiapkan hari esok, saling bahu-membahu merekatkan persaudaran dan berkhidmat untuk AGAMA dan Bangsa. cara di lanjutkan dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya di pimpin oleh Ustdzah ST. Aminurohmah, S.Pd. di lanjutkan dengan sambutan  ketua Panitia Pelaksana ust, Rakimin Al Jawie, S.Pd.I M.Si.
Tiba saatnya sambutan KETUA KODI yang di wakili Direktur PKM KODI oleh us. K.H,Dr. Syamsul Ma’arif. M.A beliau menyampaikan salam dan permohonan pimpinan KODI, K.H. Jamaluddin F. Hasyim yang saat ini sedang berada di Tanaha Suci, harapan beliau di Muktamar ini bisa melahirkan semangat dakwah di Era Milenial yang menurut beliau cara dan tekhnis dakwah  di Era ini berbeda, maka para da’i dalam berdakwa menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Modern sehingga dakwah secara online itu perlu di perhatikan dan di persiapkan pesan beliau, salah satu hasil Muktamar ini adalah agar bisa membuat Aplikasi berbasis online yaitu aplikasi WARUNG DA’I  dan semacamnya yang isinya adalah data para Da’i dan materi materi dakwah dll, sehingga mudah di akses, mudah di hubungi oleh siapapun dimanapun berada ini semua bentuk pelayanan dan dakwah pada umat, acara pembukaan ini di tutup dengan doa oleh K.H.Danu Jamaludin  sakaligus membuka secara resmi acara Muktamar  Pertama FORKA.

Acara selanjutnya adalah SIDANG PLENO I, Pengarahan Kegiatan Muktamar, di pimpin oleh ust. H.M. LATIF, harapan beliu dalam MUKTAMAR ini bisa melahirkan ide-ide, gagasan, kreativitas, yang bisa menghasilkan dakwah real di masyarakat karena dakwah di Era Milenila ini memiliki banyak tantangan, beliau memberikan motivasi pada para peserta Muktamar, sesuai ayat yang di bacakan qori surah ke 59 Al Hasyr ayat 18, agar memantapkan hati penuh semangat juang, menyiapkan dan memperhatikan segala sesuatu untuk hari esok, dan mari melupakan masalah yang sudah berlalu, kita lupakan sikap ego angkatan, ego kelompok, tidak mudah menghembuskan hawa panas sehingga menimbulkan gesekkan-gesekan kecil, tidak mudah terpancing emosi dengan hal hal kecil dll, mari menatap masa depan dengan penuh semangat, karena itu salah satu agenda penting Muktamar ini adalah menyiapkan dengan baik, dengan penuh perhitungan, apa-apa yang di perbuat untuk hari esok itu.
Selanjutnya sidang SIDANG PLENO II, Pimpinan  sidang oleh, ustdzah Farida  dan Ust. Ahmad Fathony, notulen oleh ust, ABDUL HAMID angkatan 25, sidang ini membahas, Pengesahan peserta dan peninjau, Pengesahan Jadwal  Acara, Pengesahan Tata Tertib, dan Pemilihan Pimpinan sidang.  Selanjutnya sidang SIDANG KOMISI, Membahas, pembentukan Kimisi-komisi, Penyusunan Panduan Organisasi. Selanjutnya sidang SIDANG PLENO III, Pimpin sidang oleh, Ust. Ahmad Khairul Hadi Nasution, sidang ini membahas, Laporan Komisi-komisi dan tanggapan Muktamirin, Pengesahan Hasil Sidang Komisi, Pengesahan Perubahan A/ ART dan pengesahan Program Kerja. (untuk bisa membaca AD/ART, Program kerja masih menunggu penyempurnaan dari panitia penyempurna). Selanjutnya sidang SIDANG PLENO IV, Sidang ini membahas, pemilihan  Formatur, Pengesahan Formatur, Pemilihan Ketua Umum, Pengesahan Ketua UMUM.  
Catatan Penting Muktamar Pertama ini. Menghasilkan perubahan nama dari FORKA, menjadi SYI’AR DA’I INSTITUT tentu perubahan nama ini di warnai dengan perdebatan panjang antar Peserta Muktamar sehingga menghasilkan nama SYI’AR DA’I INSTITUT ini, yang di nahkodai oleh ketua dan Wakil terpilih. Ust, Rakimin Al Jawie dan ust Ahmad Fathony, Acara ini di akhiri oleh sambutan ketua terpilih dengan penuh harapaan bahwa pasca Muktamar ini dakwah jamiyah ini makin lebih baik dan solid sehingga di rasakan benar kehadirannya di masyarakat, semua ini tidak tercapai tanpa ada kerja sama saling mendukung di antara sesama alumni di semua angkatan, dan di lanjutkan dengan sambutan penutup dan doa dari para PIMPINAN KODI DKI JAKARTA.
Seluruh Panitia acara mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada KODI atas arahan dan Fasilitas yang diberikan  kepada kami (KODI adalah orang Tua yang bijaksana bagi para alumni), juga selamat kepada ketua dan wakil SYI’AR DA’I INSTITUT Ust, Rakimin Al Jawie dan ust Ahmad Fathony. Seluruh pantian mengucapkan mohon maaf yang sedalam dalamnya kepada Alumni PKM yang  belum bisa kami hadirkan di acara tersebut, semoga kegiatan yang akan datang kita bisa sama-sam bersinergi.


 






Rabu, 26 September 2018

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK GUBERNUR DKI

HURU HARA GURU HONORER DKI














Oleh: Guru Honorer KKI DKI


Kami Honorer KKI DKI usia 30-35 tahun.
Bapak gubernur yang kami hormati.
Perkenalkan. Kami honorer KKI DKI yang mungkin tidak sesanter honorer K2,
Dengan penuh semangat dan segala bekal telah kami persiapkan.
Kontestasi terbesar ajang merubah nasib ada di depan mata.
Asa dan mimpi untuk berjuang mengadu nasib yang telah kami tunggu-tunggu 4 tahun lamanya.

Namun semua ini buyar oleh kebijakan batasan usia yang entah darimana datangnya, ini pun hanya di DKI...jadi ada apa sebenarnya dengan kebijakan pemerintah DKI..mengenai batasan masalah umur yang ramai di bincangkan oleh guru honorer saat ini....

Bapak gubernur yang kami sayangi.Kami honorer KKI DKI usia 30-35 tahun
Kini kami ibarat nelayan yang terhempas badai.. Dan entah akan menepi dimana. Bertahun-tahun kami mengabdi di Ibukota tercinta dengan penuh dengan tantangan dan karakter dari peserta didik kami hadapi dengan penuh kesabaran.

Kami juga putra-putri bangsa yang juga ingin mendapatkan hak layaknya warga daerah lainnya.
Tidak muluk-muluk, kami hanya berharap dapat ikut berlaga di penerimaan CPNS tahun ini. Karena bisa jadi ini kesempatan terakhir kami.
Setidaknya kami mendapatkan kuota khusus seperti rekan-rekan kami yang honorer K2.

Bapak gubernur yang kami banggakan...
Kami honorer KKI DKI usia 30-35 tahun.
Kini kami hanya menjadi penonton dan menyaksikan pertandingan yang sudah dimulai.
Kami hanya bisa menyaksikan rekan-rekan kami honorer KKI DKI usia 30 ke bawah yang dengan suka cita mendaftarkan diri.
Sedangkan kami...? Ini huru hara yang menggetarkan jiwa, dan relung hati kami.

Bapak gubernur yang kami panuti.Kami honorer KKI DKI usia 30-35 tahun.
Rasa cemas mulai menyelinap dibenak kami.
Adakah yang dapat menjamin kami nanti masih di tempat sekarang kami mengabdi.
Ataukah kami akan tergusur oleh guru-guru pendatang baru.

Di Bangsa yang besar ini, di Kota Jakarta yang besar, kami juga memiliki hak dan yang sama seperti guru guru yang di daerah lainnya.

Generasi Bangsa ini lahir, cerdas, sukses, bukan karena guru PNS saja, tapi juga yang berstatus gonorer seperti kami juga memiliki andil yang besar terhadap keberhasilan generasi pelanjut di bangsa ini.

Bapak gubernur yang bijaksana.Kami honorer KKI DKI usia 30-35 tahun.
Yang sedang berduka... 😔

*DKI Jakarta, 27 September 2018.
Pukul 02.22*

Selasa, 19 Juni 2018

RENUNGAN DIRI


SUNARDIN



AMBILAH DUNIA JANGAN TINGGALKAN AKHIRAT

Berbicara persoalan kehidupan, tidak dapat dilepaskan dengan harta, tahta, dan wanita, bahkan, orang menyatakan ketiganya harta, jabatan, dan wanita sebagai kesenangan dunia.
Andai saja tiga hal tersebut tidak ada dan tidak menjadi primadona hidup, maka disatu sisi penjara-penjara akan sepi penghuninya, dan neraka tidak akan dipenuhi manusia-manusia rakus, tamak, iri, dengki, dan bakhil terhadap kenikmatan duniawi. Bukankah terjadinya perang, pembunuhan, pemerasan, pemerkosaan, kecurangan, penipuan. korupsi dan berbagai fitnah, sering dipicu oleh perebutan tiga hal tersebut.
Disisi lain, seandainya harta,wanita, dan tahta tidak ada, niscaya sejarah manusia akan punah, perdaban tidak berubah, dunia ini tidak tertata, hidup tidak indah, dan surgapun akan sepi dari orang yang penyantun.
Al Qur an menginformasikan bahwa secara fitrah setiap orang berpotensi untuk condong dan berselera mencintai wanita,tahta, dan jabatan. Allah berfirman (QS. Al Imran:14).

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternakdan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Bahkan Nabi SAW, menjelaskan bahwa kebanyakan manusia menginginkan yang lebih banyak daripada apa yang telah diterima. Seandainya sudah  punya sepeda motor, tentu ingin punya mobil, seandainya sudah punya mobil, tentu ingin punya pesawat, seandainya sudah jadi guru, tentu ingin jadi kepala sekolah, seandainya sudah dapat gaji satu juta, tentu ingin lima juta dll.
Ibnu Zubair berkata, wahai manusia, sesungguhnya Nabi SAW, bersabda.
Seandainya anak adam itu diberi sebuah lembah yang penuh dengan emas, niscaya ia menginginkan yang kedua. Seandainya dia diberi dua lembah, niscaya ia menginginkan yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak adam kecuali tanah, dan Allah mangampuni dosa-dosa orang-orang yang bertaubat
Harta sangat memikat, wanita sangat mempesona, dan tahta sangat menggoda bagi siapapun yang menginginkannya dengan penuh ambisi. Ketiganya dapat membawa pada petaka dan celaka, tetapi juga dapat menjadi jembatan emas, yang menggabungkan kepada kesejahteraan dan kebahagiaan sejati, tergantung bagaima kita menyikapinya.
Bapak/Ibu hadirin.................
Secara garis besar ada dua kelompok manusia dalam menyikapi kenikmatan duniawi, yaitu.
1.    Kenikmatan dunia sebagai Ghayah (Tujuan)
            Mereka yang memilih dan menetapkan bahwa peraihan sukses dunia, baik berupa harta melimpah, istri cantik dan menawan, maupu tahta yang tinggi penuh misteri menjadi ghayah (tujuan) berarti ia telah berhasil mengambil dan membangun lumbung dunianya, tetapi menghancurkan akhiratnya, kalau mata dan hatinya telah fokus memandang dunia sebagai tujuan. Maka Allah akan memberikan balasan semua pekerjaannya dengan sempurna didunia, tetapi di akhirat tidak mendapatkan apa-apa, kecuali neraka yang panas membara, bahkan sia-sialah yang mereka kerjakan dunia.

Allah berfirman dalam surah hud:15-16.
           
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti kami berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka dan sia-sialah disana apa yang mereka usahakan ketika hidupnya didunia dan terhapuslah apa yang mereka kerjakan

Ketahuilah,sesungguhnya kehiduapan dunia itu  hanyalah permainan dan senda gurauan
Kebiasaaan hidup yang ditampilkan adalah selalu mengambil jalan pintas, dalam teori Machiavelli, menyebutkan, mengahalalkan segala cara, asalkan tujuan materi tercapai. mereka mengabaikan martabat demi sesuap nasi, mereka menggadaikan keyakinan demi wanita tercinta, mereka meremehkan idiolagi demi sebuah posisi.
Mentalnya telah diracuni sifat tamak, rakus, serakah, dan culas, terhadap kehidupan serta terobsesi agar cepat meraih kekayaan materi. Namun demikian, dalam hatinya ada ketakutan yang sangat terhadap kematian, sebab jika kematian datang maka mereka akan berpisah dengan, harta, wanita, dan jabatan.
Bagi mereka hidup didunia adalah kebebasan tanpa batas, semau gue, tanpa nilai, dan tanpa norma, hidupnya seperti binatang. (Allah berfirman Muhammad:12). “Sesungguhnya, Allah akan memasukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Dan orang yang kafir menikmati kesenangan dunia dan mereka makan seperti hewan, dan nerakalah tempat tinggal mereka

B. Kenikmatan Dunia Sebagai Wasilah (Jembatan)

Jika kenikmatan dunia diyakini sebagai wasilah atau jembatan menuju kehidupan yang hakiki, maka harta, wanita, dan tahta tidak dapat mengikat, menjerat, dan memperbudak hatinya. Seluruh nikmat yang diterima akan diletakkan sebagai penunjang keberhasilan ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Semakin kekayaan melimpah maka kedermawanan bertambah, semakin umur bertambah, maka meningkatlah ibadah. Dan semakin meningkat ilmu meningkat pula dalam berguru dan menyebarkan kebaikan amal yang shaleh.
Abu Hurairah, menuturkan dalan sebuah hadits Qudsi, Rasulullah bersabda” Allah berfirman “Aku sediakan bagi hamba-hambaku yang shaleh berbagai kenikmatan, yang mana mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarnya, dan hati belum pernah membayangkannya....”   
Inilah gambaran kenikmatan yang akan diberi kepada orang-orang yang telah memenangkan berbagai persaingan hidup. cara pandang seperti itu akan menampilkan sikap hidup yang tidak malas, tidak rakus, tidak tamak, dan tidak culas dalam menyikapi kehidupan. Perbuatan sederhana apapun diyakini akan membawa dampak tertentu, yang tentunya akan mendapatkan balasan sesuai bobot atau kualitas perbuatannya.


Inilah model hidup juhud yang telah dicontohkan oleh sahabat-sahabat Nabi sehingga menjadikan mereka orang-orang yang dihormati pada masa itu hingga hari ini nama-nama mereka terus disebut-sebut.
Inilah rahasia pemungkas agar kita dicintai Allah dan dicintai sesama manusia. disebutkan dalam sebuha hadist
Telah datang seseorang kepada Rasulullah dan bertanya, Wahai Rasulullah, Tunjukan kepada kami sesuatu amalan yang jika aku laksanakan Allah akan mencintaiku dan manusia mencintaku pula’ Rasulullah menjawab, “berzuhudlah kamu dalam urusan dunia, maka Allah mencintaimu, dan berzuhudlah kamu pada apa-apa yang ada ditangan manusia, maka manusia mencintaimu””.
Sebagai penutup khotbah ini, marilah kita bersyukur atas segala kenikmatan yang ada ditangan kita dan kenikmatan yang ada dihadapan kita. (Q.S. Ibrahim:7).

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Senin, 12 Februari 2018

ANALISIS MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PERGURUAN TINGGI


ANALISIS MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PERGURUAN TINGGI
Oleh: SUNARDIN, M.Pd.I



                                                                                              
PENDAHULUAN

Kepemimpinan yang baik selalu dikaitkan dengan keberhasilan sebuah institusi pendidikan. Ada korelasi yang signifikan antara peningkatan kinerja institusi pendidikan dengan keefektifan seorang pemimpin. Pemimpin  yang baik tidak semata-mata karena faktor bawaan, akan tetapi juga karena diusahakan. Latar sosial dan budaya seorang pemimpin menjadi salah satu yang berpengaruh terhadap keefektifan kepemimpinan, sehingga menjelaskan konstruksi sosial warga dan latar sosial dan budaya menjadi sebuah keharusan untuk mengungkap keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.
Dalam kenyataannya para pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kwalitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan paranan kritis dalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka.
Kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas –kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menseleksi pemimpin-pemimpin efektif akan meningkat. Dan bila organisasi dapat mengidentifikasikan perilaku dan teknik-teknik kepemimpinan efektif, akan dicapai pengembangan efektifitas personalia dalam organisasi.
Dalam sebuah institusi pendidikan, tentunya bukan hanya peran kepemimpinan dalam roda perjalanannya. Akan tetapi membutuhkan banyak elemen lain yang harus mendukung. Diantaranya adalah tuntutan adanyamanajemen,administrasiorganisasi yang solid.
Gabungan tiga elemen di atas akan meningkatkan mutu sebuah pendidikan, dimana peran masing-masing elemen tersebut amat berkaitan erat. Kinerja manajer lebih difokuskan kepada pencapaian tujuan, tanpa perlu memperhatikan penerimaan sosial atas kehadirannya. Pemimpin sebaliknya, ia tidak hanya mementingkan ketercapaian tujuan tetapi juga peduli pada sisi penerimaan social.
Pendidikan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari siklus kehidupan manusia, sebuah fitrah dari makhluk yang dianugrahi akal dan pikiran. Proses pendidikan berjalan sejak dalam kandungan sampai keliang lahat (baca: meninggal dunia). Pendidikan bisa didapat dimana saja dan kapan saja. Proses pendidikan yang paling efektif adalah melalui pendidikan formal. Dimana sekolah merupakan perwujudan nyata pendidikan yang dilakukan secara berjenjang atas dasar sistem dan kebijakan tertentu.
Jejang pendidikan formal pasca sekolah lanjut atas adalah Perguruan Tinggi. Dimana pendidikan diklarifikasikan berdasarkan konsentrasi bidang keilmuan tertentu. Maka tidaklah mengherankan jika perguruan Tinggi menjadi pusat perubahan dan pengembangan ilmu pengetahuan, dimanapun di dunia itu. Itulah salah satu peran dan fungsi Perguruan Tinggi.
Dengan menyandang peran yang sangat penting tersebut sudah barang tentu Perguruan Tinggi harus menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap menajdi troble shooter dalam kehidupan di masyarakat. Sekaligus mempu menjawab segala bentuk tantangan selaras dengan kepentingan rakyat banyak. Peran agen of chenge dapat dijadikan alternatif parameter berdasarkan idiologi Perguruan Tinggi atau lebih dikenal dengan Tri Darma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat[1].
Dalam konteks Indonesia, kajian ulang tentang Perguruan Tinggi semakin menemukan momentumnya dengan terjadinya krisis moneter, yang disusul krisis ekonomi, politik dan sosial. Semua krisis ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan mendalam tentang meningkatnya drop-out rate di kalangan mahasiswa, tetapi juga tentang semakin merosotnya efektivitas dan efisiensi Perguruan Tinggi dalam menghasilkan mahasiswa dan lulusan yang memiliki competitive advantage, memiliki daya saing yang andal dan tangguh dalam zaman globalisasi yang penuh tantangan seperti saat ini. Pengembangan perguruan-perguruan tinggi Islam (PTI), dengan demikian, juga harus dilihat dalam konteks perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepat, baik pada tingkat konsep dan paradigma Perguruan Tinggi. Bahkan lebih jauh lagi, pengembangan PTI sekaligus pula harus mempertimbangkan perubahan dan transisi sosial, ekonomi dan politik nasional dan global.
Makalah ini mencoba mengkaji menganalisis manajemen dan kepemimpinan perguruan tinggi. dan lebih dalam membahas masalah manajemen perguruan tinggi.  
ANALISIS MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PERGURUAN TINGGI
Mengenai definisi kepemimpinan, banyak perbedaan pendapat mengenainya. Hal ini disebabkan berbedanya sudut pandang dari masing-masing peneliti, maka mendefinisikan kepemimpinan sesuai dengan perspektif-perspektif individual dan aspek dari fenomena yang paling menarik dari perhatian mereka.
a.    Jacobs & Jacques, mendefinisikan kepemimpinan sebagai sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.[2]
b.    Sedangkan menurut Tannenbaum, Weschler & Massarik,   kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi, yang dijalankan dalam suatu sistem situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapain satu tujuan atau bebrapa tujuan tertentu.[3]
c.    Mar’at mengutip pendapat Browr, menyatakan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memiliki posisi dengan potensi tinggi di lapangan.[4]
d.   Kartini Kartono mengatakan, bahwa pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus dengan atau tanpa pengangkatan resmi untuk dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk melakukan usaha bersama mengarah kepada sasaran-sasaran tertentu.[5]
Dari pengertian di atas, bisa di tarik kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan suatu hubungan proses mempengaruhi yang terjadi dalam suatu komunitas yang di arahkan untuk tercapainya tujuan bersama.
Dibawah ini dijelaskan beberapa pendapat yang menjelaskan tentang pengertian manajemen.
a.    George R. terry dalam bukunya yang terkenal berjudul Principle of Management, dikemukakan bahwa:
"Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian, kegiatan, dan tindakan pengawasan (controlling), yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lain.
b. The Liang Gie
Manajemen sebagai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengontrolan terhadap sumber daya manusia dan alam untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
c. Sondang P. Siagian
Manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan orang lain.
d. Malayu S.P. Hasibuan
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan tertentu.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwasanya manajemen adalah proses untuk mencapai tujuannya yang diinginkan dengan dibantu oleh faktor-faktor pendukung seperti perencanaan, pengorganisasian, dan  pengawasan (controlling) dengan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan lainnya.
Sebelum membicarakan manajemen perguruan tinggi, lebih dahulu perlu menelaah hakekat yang lebih utuh mengenai perguruan tinggi karena entitas perguruan tinggi mempunyai beberapa dimensi fungsi atau dimensi makna. Definisi dan penjelasan yang sudah diberikan menyebutkan bahwa perguruan tinggi adalah suatu satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Tujuan pendidikan tinggi ialah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, ada sekurang-kurangnya empat atau lima dimensi makna yang melekat pada perguruan tinggi, yaitu: (1) dimensi keilmuan (ilmu dan teknologi); (2) dimensi pendidikan (pendidikan tinggi); (3) dimensi sosial (kehidupan masyarakat); (4) dimensi korporasi (satuan pendidikan atau penyelenggara). Di atas semua itu, apabila pendidikan tinggi dimaksudkan untuk meningkatkan martabat manusia, maka dapat diangkat ke dalam dimensi makna yang lebih mendalam, yaitu (5) dimensi etis.[6] Saat membicarakan manajemen perguruan tinggi, berbagai dimensi maknalah antara lain yang membedakannya dengan manajemen perusahaan atau manajemen entitas lain. Oleh karena itu, sebelum membicarakan mengenai perguruan tinggi, ada baiknya kelima dimensi makna ditelaah satu persatu.
a.              Dimensi Etis
Universitas dikenal sebagai pusat kreativitas dan pusat penyebaran ilmu pengetahuan bukan demi kreativitas sendiri, tetapi demi kesejahteraan umat manusia. Hakekat tugas dan panggilan universitas ialah mengabdikan diri pada penelitian, pengajaran, dan pendidikan para mahasiswa yang dengan suka rela bergabung dengan para dosen dalam cinta yang sama akan pengetahuan. Universitas adalah suatu komunitas akademik yang dengan cermat dan kritis membantu melindungi dan meningkatkan martabat manusia dan warisan budaya melalui penelitian, pengajaran, dan berbagai pelayanan yang diberikan kepada komunitas setempat, nasional, dan bahkan internasional. Peran universitas pada perlindungan martabat manusia serta pada tanggungjawab moral penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah beberapa contoh dimensi etis dari makna perguruan tinggi.[7]

b.             Dimensi Keilmuan
Dunia perguruan tinggi adalah dunia ilmu pengetahuan. Tujuan utama pendidikan tinggi adalah mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan dengan proses belajar mengajar, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hanya di perguruan tinggi melalui pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan betul-betul dikembangkan dan bukan di pendidikan yang lebih rendah atau di tempat lain. Oleh karena itu, para dosen harus berusaha selalu meningkatkan kompetensi di bidang ilmu pengetahuan dan penelitian yang dikuasainya. Demikian pula, para mahasiswa dirangsang untuk berpikir secara kritis, sistematis dan taat asa serta mau dan mampu belajar seumur hidup.

c.              Dimensi Pendidikan
Pendidikan tinggi adalah pendidikan, yaitu pendidikan pada tingkat tinggi. Namun, hal ini sering menimbulkan polemik, apakah memang betul bahwa proses yang terjadi di universitas merupakan suatu pendidikan atau suatu pembelajaran karena arti “pendidikan” lain sama sekali dengan “pembelajaran”. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa diusahakan menjadi orang yang belajar, mau belajar terus-menerus. Proses pembelajaran umumnya bersifat formal. Sebaliknya, pendidikan adalah proses penyiapan manusia muda menjadi manusia dewasa, yaitu manusia yang mandiri dan bertanggungjawab. Proses pendidikan bersifat informal dan terjadi terutama di dalam keluarga, tetapi dapat pula di dalam masyarakat dan sekolah.
Dalam proses pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, tidak ada pengaturan, kurikulum, maupun penjenjangan. Yang ada hanyalah perjenjangan, pengaturan, perencanaan, struktur, dan sistem mengenai pembelajaran. Namun polemik mungkin dapat didamaikan dengan penjelasan bahwa di dalam perguruan tinggi terjadi pendidikan melalui pembelajaran. Pendidikan dapat diberikan, baik dalam kurikulum intra, kurikulum ekstra. Dalam kurikulum intra, pendidikan dapat diberikan dalam bentuk penjelasan dan contoh aplikasi ilmu pengetahuan. Dalam kurikulum ekstra, pendidikan dapat diberikan dalam seni budaya, seni olahraga, seni organisasi, dan sebagainya. Disiplin, keterbukaan, pelayanan, bantuan pada yang lemah, kejujuran, kerja keras, dan sebagainya yang diperlihatkan dalam pengelolaan universitas adalah nilai-nilai konkret yang merupakan contoh nyata untuk pendidikan.

d.             Dimensi Sosial
Penemuan ilmiah dan penemuan teknologi telah menciptakan pertumbuhan ekonomi dan industri yang sangat besar. Melalui pertumbuhan ekonomi dan industri, kesejahteraan manusia pun ditingkatkan. Melalui kegiatan dan perjuangan para ahli dan mahasiswa, kehidupan demokrasi ditingkatkan dan martabat manusia lebih dihargai. Perguruan tinggi mempersiapkan para mahasiswa untuk mengambil tanggungjawab di dalam masyarakat. Dari para lulusannya, masyarakat mengharapkan pembaruan dan perbaikan terus-menerus dalam tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lebih lanjut, melalui pengajaran dan penelitian, perguruan tinggi diharapkan memberikan sumbangan dalam memecahkan berbagai problem yang sedang dihadapi masyarakat seperti kekurangan pangan, pengangguran, kekurangan pemeliharaan kesehatan, ketidakadilan, kebodohan, dan sebagainya.

e.              Dimensi Korporasi
Perguruan tinggi memberikan jasa kepada masyarakat berupa pendidikan tinggi dalam bentuk proses belajar mengajar dan penelitian. Yang diajarkan dan diteliti adalah ilmu pengetahuan. Jadi, bisnis pendidikan tinggi ialah ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi mempunyai pelanggan, yaitu para mahasiswa dan masyarakat pengguna lulusannya. Perguruan tinggi menghadapi persaingan, yaitu antar perguruan tinggi lain, baik dari dalam maupun luar negari. Apabila mahasiswa (pelanggan) perguruan tinggi terlalu sedikit, perguruan tinggi tidak dapat membiayai dirinya sendiri, sehingga mengalami defisit dan kalau terus-menerus demikian, kelangsungan hidupnya akan terancam. Perguruan tinggi memiliki dan mengelola berbagai sumber daya seperti manusia, barang-barang, peralatan, keuangan, dan metode. Perguruan tinggi perlu memperkenalkan produknya pada masyarakat agar dikenal dan “dibeli”. Semua menunjukkan kesamaan antara perguran tinggi dengan perusahaan. Inilah dimensi korporasi perguruan tinggi.
Di era kontemporer, dunia pendidikan dikejutkan dengan adanya model pengelolaan pendidikan berbasisindustri. Pengelolaan model ini mensyaratkan adanya upaya pihak pengelola institusi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan manajemen perusahaan. Penerapan manajemen mutu dalam pendidikan ini lebih populer dengan sebutan istilah Total Quality Education (TQE) yang dikembangkan dari konsep Total Quality Management (TQM), pada mulanya diterapkan pada dunia bisnis kemudian diterapkan pada dunia pendidikan (Salis, 2010).
Secara filosofis, konsep ini menekankan pada perbaikan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Sehingga tidak mengherankan, jika institusi pendidikan, baik pendidikan dasar dan menengah mau pun pendidikan tinggi berlomba-lomba mengadopsi teori dan praktek manajemen mutu di perusahaan untuk diterapkan di institusi pendidikannya, yang disahkan melalui sertifikasi yang diberikan oleh lembaga yang berwenang. Salah satu jenis sertifikasi yang banyak dikejar oleh institusi pendidikan adalah sertifikasi ISO dengan berbagai variasinya. ISO sebetulnya berasal dari istilah International Organization for Standardization, supaya lebih mudah disingkat menjadi ISO (Chatab, 1996). Sertifikasi ISO akan diberikan jika institusi pendidikan tersebut telah berhasil menerapkan standar mutu pendidikan secara konsisten sesuai dengan persyaratan ISO.
Sejalan dengan penerapan manajemen mutu pada institusi pendidikan tinggi, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) telah mengeluarkan sebuah pedoman, yaitu Pedoman Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Pendidikan Tinggi, yang secara tegas mensyaratkan bahwa proses penjaminan mutu di pendidikan tinggi merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Pedoman ini disusun tidak dengan maksud untuk ‘mendikte’ perguruan tinggi dalam melakukan proses penjaminan mutu pendidikan tinggi, melainkan untuk memberikan inspirasi tentang siapa, apa, mengapa, dan bagaimana penjaminan mutu tersebut dapat dijalankan (Departemen Pendidikan Nasional, 2003).
Dengan melaksanakan penjaminan mutu secara konsisten dan berkesinambungan diharapkan perguruan tinggi dapat meningkatkan kinerjanya dengan maksimum, sehingga dapat bersaing secara sehat dengan perguruan tinggi yang sejenis. Lebih jauh lagi, dengan pelaksanaan penjaminan mutu artinya perguruan tinggi tersebut bisa memberi kepastian dan keyakinan kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) bahwa mutu pendidikan di perguruan tinggi tersebut sudah mengikuti standar-standar yang disyaratkan oleh lembaga pemberi sertifikasi atau akreditasi.
Di bagian akhir pedoman tersebut dijelaskan tentang pelaksanaan penjaminan mutu di perguruan tinggi, seperti kutipan berikut ini.
‘’Agar penjaminan mutu pendidikan tinggi di perguruan tinggi dapat dilaksanakan, maka terdapat beberapa prasyarat yang harus dipenuhi agar pelaksanaan penjaminan mutu tersebut dapat mencapai tujuannya, yaitu komitmen, perubahan paradigma, dan sikap mental para pelaku proses pendidikan tinggi, serta pengorganisasian penjaminan mutu di perguruan tinggi’’.
Komitmen adalah syarat pertama yang harus ada. Komitmen di sini meliputi komitmen semua pihak, baik pimpinan, tenaga edukatif, tenaga non edukatif, atau pun tenaga penunjang, dengan kata lain seluruh civitas academica. Tetapi yang terpenting adalah komitmen pimpinan, karena untuk mengubah paradigma dan sikap mental, serta pengorganisasian penjaminan mutu yang baik dibutuhkan komitmen pimpinan. Tanpa komitmen pimpinan semua hal yang sudah dirancang tidak akan ada gunanya.
Jelas sekali bahwa peran pimpinan dalam melaksanakan penjaminan mutu di perguruan tinggi sangatlah penting. Hal ini sejalan dengan pendapat Salis (2010) bahwa: “Kepemimpinan adalah unsur penting dalam TQM. Pemimpin harus memiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik.
Pemangku Kepentingan di Perguruan Tinggi
Perguran tinggi di Indonesia dapat dibedakan menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK), dan Perguruan Tinggi Agama (PTA). Pada dasarnya pemangku kepentingan di semua perguruan tinggi di atas hampir sama, yang membedakan adalah lembaga penyelenggaranya. PTN diselenggarakan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional, PTS diselenggarakan oleh yayasan pribadi, PTK diselenggarakan oleh kementerian lain di luar Kementerian Pendidikan Nasional, dan PTA diselenggarakan oleh Kementerian Agama.
Untuk merinci pemangku kepentingan di perguruan tinggi bisa digunakan pendekatan sistem, yaitu dengan melihat mekanisme input-proses-output di perguruan tinggi, dengan menganggap bahwa perguruan tinggi sebagai sistem terbuka. Berdasarkan gambar mekanisme input-proses-output perguruan tinggi, maka dapat dirinci pemangku kepentingan di perguruan tinggi secara umum adalah:
a.     Dosen
b.    Mahasiswa
c.     Tenaga non edukatif
d.    Lembaga penyelenggara
e.     Pemerintah
f.     Unsur pimpinan (Rektor, Dekan, Ketua Jurusan/Prodi, Kepala Lembaga, Kepala Biro, Kepala Bagian, Kepala Unit, dan pimpinan satuan kerja lainnya)
g.    Alumni
h.    Lembaga lain
i.      Masyarakat



Problematika PTAIS
Terkait dengan perguruan tinggi Islam swasta, dewasa ini, jumlah perguruan tinggi Agama Islam dari hari ke hari secara kuantitas mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Ada 400 lebih PTAIS yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, baik dalam bentuk Sekolah Tinggi, Universitas dan lain sebagainya. Tentu saja dengan jumlah tersebut, dilihat dari segi kuantitasnya, patutlah untuk disyukuri. Namun demikian perlu dipertanyakan sejauhmanakah kondisi dari sebagian PTAIS tersebut. Artinya, sejauhmana kualitas PTAIS dibanding dengan PTAIN dan PTUN? Apakah mereka sudah benar-benar menjadi Perguruan Tinggi, atau hanya sekedar menjadi lembaga "penjual" ijazah, yang tidak pernah mengetahui bagaimanakah kompetensi dan daya serap (akseptabilitas) lulusannya di masyarakat. Oleh karena itu, melihat keadaan makro PTAIS sekarang ini, pengembangan PTAIS menjadi kebutuhan yang amat mendesak, apalagi dikaitkan dengan tugas pemerintah (baca: Depag) untuk mengembangkan PTAIS.[8]
Seiring berkembang dan majunya PTAIS, tidak terlepas dari berbagai problem yang merintangi perjalanannya. Permasalahan yang dialami oleh PTAIS sangat kompleks, meliputi infrastruktur, mahasiswa, pembiayaan, proses akademik, dan kualitas lulusan. Dari segi inftastruktur, walaupun pada umumnya PTAIS telah memiliki kampus, namun bervariasi antara yang berada di tanah milik dilengkapi dengan bangunan dan sarana yang memadai, namun ada juga yang masih menyewa, atau di kampus sendiri namun sarananya masih sederhana dan terbatas. Kampus PTAIS yang berada di pondok pesantren sangat ideal, namun mahasiswa yang mondok di pesantren terbatas jumlahnya. Kampus PTAIS rata-rata dilengkapi dengan perpustakaan namun bervariasi antara yang banyak dan sedikit buku pustakanya. Sedangkan laboratorium, baik micro teaching, komputer atau bahasa, rata-rata masih terbatas, bahkan ada yang belum memiliki.[9]
Dari segi mahasiswa, rata-rata Program Studi PTAIS kecil sekali animonya, apalagi yang selain Prodi PAI, sehingga kualitas in put tidak biasa diseleksi. Penurunan penerimaan mahasiswa terjadi di semua perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, hal tersebut karena angka partisipasi kasar nasional masih rendah, sementara PTN memperluas Program Studi yang menyedot animo yang biasa masuk PTAIS, dan jumlah PTAIS makin banyak. Salah satu implikasi dari kondisi ini, PTAIS membuka kelas jauh untuk mengejar animo dengan mendekatkan jarak antara mahasiswa dengan kampus.
Dampak Dari kecilnya jumlah penerimaan mahasiswa maka mengakibatkan sulitnya pembiayaan PTAIS, sebab rata-rata pembiayaan PTAIS tergantung pada dana Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Sedikit sekali, bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada, PTAIS yang mempunyai sumber lain yang menjadi kiprah usahanya untuk membiayai program akademik. Bantuan dari pemerintah belum terbuka, harusnya Pemerintah menyetarakan anggaran bagi perguruan tinggi negeri dan swasta. Terdapat PTAIS yang secara berkala mendapat alokasi anggaran dari Pemerintah Daerah setempat, terutama yang secara historis kelembagaannya dibidani oleh Pemerintah Daerah.
Dari problematika sarana yang terbatas, input mahasiswa yang kecil, jumlah biaya yang tidak memadai, berimplikasi pada problematika proses akademik. Dari segi kurikulum ditempuh pengurangan SKS sampai batas yang limitatif, dari segi hari perkuliahan dikurangi jumlahnya perminggu, rekruting dosen terbatas pada pemenuhan kebutuhan pokok, tidak mustahil terjadi penyederhanaan dalam proses perkuliahan dan ujian. Yang pasti, darma penelitian masih sangat terabaikan, kecuali dalam penelitian skripsi yang dilakukan mahasiswa. Begitu juga Kuliah Kerja Nyata atau yang sejenisnya sebagai salah satu program untuk darma pengabdian kepada masyarakat, ditunaikan dalam porsi yang terbatas.[10]
Dalam pada itu PTAIS justru menikmati keterbatasan, walaupun tidak tersedia sarana dan dana yang banyak namun tetap berjuang maksimal dalam proses akademik melalui mekanisme yang sesuai dengan standar regulasi untuk mengantarkan para mahasiswa menjadi alumni yang memenuhi kompetensinya.
Problematika di atas berimplikasi bagi masalah kualitas yang belum optimal, baik kualitas kelembagaannya maupun kualitas lulusan yang menjadi out put PTAIS. Namun patut disyukuri bahwa berdasarkan hasil akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, PTAIS mendapat akreditasi yang tidak buruk, walau belum banyak yang mendapat akreditasi puncak, rata-rata sedang-sedang saja, antara B dan C. Begitu juga lulusan PTAIS, rata-rata mendapat job di masyarakat karena mayoritas adalah guru agama yang sudah mendapat status sebelum masuk kuliah atau mendapat tugas setelah lulus, baik sebagai guru, mubalig, pimpinan organisasi Islam, kader politik dan lain-lain. Memang masih banyak alumni yang berorientasi untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil baik di lingkungan Depertemen Agama atau Departemen lain dan Pemerintah Daerah. Mereka menekuni proses testing yang sudah berulang-ulang namun kebanyakan dari mereka menjadi Guru Honorer.
PENUTUP                                                                                            
Dari pemaparan tersebut di atas dapat penulis memberikan kesimpulan bahwa pendidikan tinggi saat ini sudah berkembang dengan pesat, ini tidak terlepas dari manajemen dan kepemimpinan dan kerjasama pihak yang berwewenang dari segala sisi yang dimaksud adalah. DosenMahasiswaTenaga non edukatifLembaga penyelenggaraPemerintahUnsur pimpinan (Rektor, Dekan, Ketua Jurusan/Prodi, Kepala Lembaga, Kepala Biro, Kepala Bagian, Kepala Unit, dan pimpinan satuan kerja lainnya)AlumniLembaga lainMasyarakat.
Seiring berkembang dan majunya PTAIS, tidak terlepas dari berbagai problem yang merintangi perjalanannya. Permasalahan yang dialami oleh PTAIS sangat kompleks, meliputi infrastruktur, mahasiswa, pembiayaan, proses akademik, dan kualitas lulusan.




DAFTAR PUSTAKA

Yukl Gary. 1994Kepemimpinan Dalam organisasi. (Terj, Jusuf Udaya). Jakarta. Prenhallindo.

Marno dan Triyo Supriyatno. 2008Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam.. Malang. Refika Aditama.

R. Djokopranoto & R. Eko Indrajit, Manajemen Perguruan Tinggi Modern, Yogyakarta: Andi Offset, 2006,

Furchan, Arief, 2004. Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia.Yogyakarta: Gama   Media.

Indrajit, R. Eko. 2006, Manajemen Perguruan Tinggi Modern (Yogyakarta: Andi Offset.
www.beritamakasar.com. juga baca di http:// alumnigontor.blogspot.