SUNARDIN SYAMSUDDIN.

SUNARDIN SYAMSUDDIN.

Selasa, 18 September 2012

MANUSIA DAN KEBUTUHANNYA TERHADAP PENDIDIKAN


MANUSIA DAN KEBUTUHANNYA
TERHADAP PENDIDIKAN

A.   PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang unik. Ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain, manusia adalah makhluk yang paling mulia.
Tatkala manusia baru dilahirkan, tubuhnya masih lemah, perlu dijaga dan dipelihara oleh orang-orang disekitarnya. Jiwanya masih lembut, mudah dibentuk oleh orang tua dan lingkungannya.
Berbekal potensi-potensi yang diberikan Allah kepadanya, manusia harus dibimbing dan dibina dalam pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohaninya. Manusia membutuhkan pendidikan. Sebab manusia adalah makhluk educable, yang dapat dididik. Maka tergantung orang tuanya dan orang-orang dewasa disekitarnya, nantinya akan menjadi seperti apa anak itu.
Karena itu pendidikan sangat penting. Melalui pendidikan ilmu pengetahuan disebarluaskan, nilai-nilai luhur dapat ditanamkan. Terutama pendidikan agama Islam sangat diperlukan untuk membangun karakter bangsa.
Pada masa kejayaan Islam, ilmu pengetahuan berkembang pesat, kehidupan masyarakat muslim mencapai puncaknya. Masyarakat Eropa yang berada dalam masa kegelapan banyak berguru kepada para filsuf dan ilmuwan Muslim.
Karakteristik peradaban Islam berkembang bersamaan dengan berkembangnya nilai-nilai masyarakat yang terbuka dan perhatian yang besar terhadap masalah hubungan antar manusia. Pertemuan antar bangsa, etnis dan budaya dikala Islam mulai berkembang ke wilayah yang lebih luas, menghasilkan peradaban baru yang mencerahkan.
Sejak zaman penjajahan kondisi umat mengalami kemunduran. Begitu juga dalam dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan. Pendidikan Islam disaat itu berada dipinggiran menjadi lembaga pendidikan nomor dua dan tidak diperhitungkan orang.
Berangkat dari esensi manusia yang membutuhkan pendidikan, selalu haus akan ilmu pengetahuan, serta kecenderungan orang untuk mencari kebenaran, perlu digali nilai-nilai lama yang menjadi motivasi kemajuan peradaban dimasa lalu.
Tertarik oleh masalah tersebut, dalam tuliasan  ini dibahas tentang manusia dan kebutuhannya akan pendidikan, ditinjau dari filsafat dan perpektif Islam serta implementasinya dalam pendidikan Islam.  

B.    MANUSIA MENURUT TINJAUAN FILSAFAT

Usaha untuk memikirkan dan merenungkan segala sesuatu yang bertalian dengan manusia dalam rangka mencari hakekat kebenaran yang menyeluruh dan sistematis telah lama dilakukan. Perenungan itu antara lain melalui filsafat.
Filsafat adalah hal yang paling mendasar dalam hidup. Oleh karena itu filsafat selalu menjadi landasan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang erat, sebab pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Menurut W.H.Kilpatrik, filsafat adalah pembahasan secara kritis tentang nilai-nilai kehidupan dan cara bagaimana mengelola kehidupan. Memenuhi kebutuhan ini, filsafat mengarahkan suatu pengertian, pemahaman tentang kehidupan yang ideal. Berfilsafat adalah merenungkan nilai-nilai yang terbaik dan ideal.[1])
Terdapat beberapa aliran di dalam filsafat manusia. Aliran-aliran itu memiliki pandangan tentang hakikat atau esensi manusia. Dari sekian banyak aliran terdapat dua aliran tertua dan terbesar materialisme dan idealisme.
Pertama, Materialisme, yaitu faham filsafat yang meyakini bahwa esensi manusia bersifat material atau fisik. Ciri utama dari kenyataan fisik atau material adalah bahwa ia menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (res extensa) dan bersifat objektif. Karenanya ia bisa diukur, dikuantifikasi (dihitung) dan diobservasi. Alam spiritual atau jiwa yang tidak menempati ruang tidak bisa disebut esensi/kenyataan dan oleh karena itu ditolak keberadaannya. [2])
Termasuk materialisme adalah Naturalisme. Tingkah laku manusia, menurut kaum materialis maupun naturalis, tidak digerakkan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh kekuatan-kekuatan diluar dirinya. Metaphor yang digunakan oleh materialisme adalah mesin atau benda-benda lain yang bersifat mekanis. Gejala alam termasuk manusia didekati dari segi proses kimia-fisika. Proses berpikir misalnya dianggap sebagai aktifitas elektronika dari otak.[3])
Kedua, Idealisme
Idealisme adalah aliran pemikiran yang kental dengan corak metafisik. Aliran ini memandang bahwa realitas itu tidak lain adalah ide-ide, akal, pikiran atau jiwa bukan benda-benda material. Gagasan tertua filsafat ini dimulai jauh sebelum periode Masehi bergulir, tepatnya di era Plato. Dia inilah pencetus pertama filsafat idealism. Namun penyebutan istilah ‘idealisme’ baru di awal abad ke-18, diperkenalkan oleh seorang pemikir Jerman, Leibniz [4].)
Pengikut idealisme percaya bahwa ada kekuatan atau kenyataan spiritual dibelakang setiap penampakan atau kejadian. Esensi dari kenyataan spiritual adalah berpikir (res cognitans). Filsuf idealisme tidak menolak hal-hal yang bersifat fisik dan adanya hukum alam. Sebagaimana dikemukakan oleh Hegel (1770-1831) bahwa kekuatan fisik dan hukum alam itu memang ada, tetapi keberadaannya merupakan manifestasi dari kekuatan atau kenyataan sejati yang lebih tinggi yakni Roh Absolut[5]). Para idealis, seperti yang diungkapkan Plato, dunia yang ditempati manusia adalah bayangan, sedangkan dunia cita-cita adalah dunia yang kekal yang tidak berubah[6]).
Menurut aliran filsafat ini hidup manusia adalah bertujuan (teleologis) yakni hendak menggapai dan sekaligus mengaktualisasikan nilai, norma atau hukum. Perilaku manusia mengandung maksud dan tujuan, bukan semata-mata bergerak secara mekanis.
Selain dua aliran besar diatas terdapat aliran-aliran lain seperti realism, dualism, pragmatism, progresivisme, esensialisme, perenialisme, eksistensialisme dan postmodernisme.

Realisme
Aliran ini hadir sebagai reaksi corak idealism yang cenderung abstrak dan metafisik. Gagasan ini dimulai dari Aristoteles. Selanjutnya dikembangkan oleh dua filsuf : Francis Bacon (1561-1626) dengan pemikirannya tentang metodologi induktif dan John Locke tentang konsep akal piker jiwa manusia yang disebutnya sebagai “tabula rasa”, ruang kosong tak ubahnya kertas putih, kemudian menerima impresi dari lingkungan[7]).

Dualisme.
Filsafat ini memandang kenyataan sejati bahwa pada dasarnya berfsifat fisik dan spiritual. Sebagaimana dikemukakan oleh Descartes (1596-1650) bahwa tubuh manusia adalah berkekuasaan (res extensa), menempati ruang dan waktu, semua orang dapat mengamati, mengukur dan mengkuantifikasikannya. Tapi Descartes juga mengakui kenyataan adanya non-materi seperti berpikir (res cognitans). Ia mengatakan “Cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Dilthey (1833-1911) membagi kenyataan kedalam dua substansi, yakni res extensa dan res cogitans atau materi dan jiwa. Berdasarkan pembagian tersebut Dilthey membagi dua jenis ilmu pengetahuan yaitu Nurturwissenchaften dan Geisteswissenchaften, ilmu-ilmu pengetahuan alam yang berobjekkan materi dan ilmu-ilmu pengetahuan kemanusian yang berobjekkan ekspresi-ekspresi atau manifestasi-manifestasi jiwa manusia [8]).


Pragmatisme 
Aliran filsafat modern yang lahir di Amerika abad ke-19 hingga abad ke-20. Filsafat ini mengabaikan hal-hal yang bersifat metafisik tradisional dan lebih banyak terarah pada hal-hal yang pragmatis dalam kehidupan. Dikenal nama-nama yang berpengaruh dalam aliran filsafat ini: Charles S. Pierce (1859-1914), William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952) dan George Herbert Mead (1863-1931). Pragmatism berpandangan, peserta didik, bukanlah objek melainkan subjek yang memiliki pengalaman. Pengalaman selalu menjadi sumber pengetahuan termurni manusia [9]).

Progresivisme
Akhir abad ke 19 menjelang abad ke 20 lahir aliran ini, ketika proses industrialisasi dan urbanisasi gejolak yang begitu massif. Lahir di Amerika dengan dua tokohnya : Robert La Follete (1855-1925) dan Woodrow Wilson. Tokoh lain yang mempengaruhi lahirnya aliran ini adalah Sigmund Freud (1856-1939) dalam pemikirannya tentang psikoanalisis dan pemikir Jean Jacques Rousseru yang tertuang dalam karangan Emite (1762) [10]).

Esensialisme
Esensialisme memandang pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai yang terpilih. Esensialisme menilai progresivisme telah melahirkan pendidikan sebagai usaha yang gagal, karena upaya progresivisme menjadikan pendidikan sebagai usaha belajar tanpa penderitaan. Hal itu membuat manusia menjadi makin tumpul dan dangkal.
Ide dasar Aristoteles memaknai esensi sebagai kata yang memiliki kedekatan makna dengan morphe yang berarti bentuk. Karl Popper memaknai esensi sebagai lawan kata nominal.
Esensialisme identik dengan generalisasi. Pemikiran mereka tentang manusia bahwa sebagian sifat-sifat tertentu dari manusia selalu bersifat universal dan dimiliki oleh manusia lainnya tanpa dipengaruhi oleh konteks.
Para esensialis memandang bahwa seseorang lahir sebagai individu yang sepenuhnya memiliki karakteristik yang berbeda-beda dengan individu lainnya, sehingga ia menjadi orang yang berpisah, meskipun ia tetap menjadi bagian dari sosial.
George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) mengemukakan adanya sistesis antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi satu pemahaman yang mengunakan landasan spiritual.
William Bagley (1874-1946) memandang bahwa esensi selalu terkait dengan budaya gerakan literasi yang dipandang oleh kaum esensialis sebagai nilai-nilai kebudayaan penting yang membawa manusia menjadi lebih beradab [11]).

Perenialisme
Seperti halnya Esensialisme, Perenialisme lahir sebagai reaksi terhadap progresivisme yang dinilai telah membuat pendidikan menjadi semakin jauh dari visi hidup yang sebenarnya.
Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan  perubahan dan system yang baru. Maka perenialisme cenderung menggunakan kembali nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kokoh pada zaman terdahulu dan abad pertengahan.
Asa-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat, kebudayaan yang mempunyai dua sayap, yaitu perenialisme yang teologis yang ada dalam pengayoman supremasi gereja Katolik, khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas dan pereniaslime secular, yaitu yang berpegang kepada ide dan cita-cita filosofis Plato dan Aristoteles.
Filsafat perenialis memandang pendidikan sebagai proses menuntun kemampuan-kemampuan yang tertidur (bakat terpendam) yang dimiliki seseorang menjadi aktif dan nyata.
Dalam perenialisme, manusia adalah hewan rasional. Yang membedakan manusia dengan hewan, adalah kecerdasan rasional yang dimiliki manusia, sehingga kehidupannya lebih variatif dibanding dengan binatang yang hidupnya monoton [12]).

Eksistensialisme
Faham filsafat ini tidak membahas manusia secara abstrak, melainkan secara spesifik meneliti kenyataan konkrit sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya. Istilah eksistensi berasal dari kata existere, yang memiliki arti sebagai “suatu yang sanggup keluar dari keberadaannya” atau “suatu yang mampu melampaui dirinya sendiri”. Para existensialis menyebut manusia sebagai suatu proses “menjadi”, gerak yang aktif dan dinamis. Manusia diyakini sebagai makhluk yang bebas dan kebebasan itu adalah modal dasar untuk hidup sebagai individu yang otentik dan bertanggung jawab [13]).

Strukturalisme
Menurut aliran ini, manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang tidak bebas. Aliran ini menempatkan struktur (sistem) bahasa dan budaya sebagai kekuatan-kekuatan yang menentukan perilaku dan bahkan kesadaran manusia. Faham Strukturalisme tidak mengakui adanya ego atau individu. Makna dan keberadaan manusia pada dasanya tidak tergantung pada diri manusia itu sendiri melainkan pada kedudukan dan fungsinya dalam system. Ada aturan main yang menyebabkan manusia, sadar atau tidak sadar harus mematuhi aturan-aturan di dalam system tersebut [14]).
Posmodernisme
Posmodernisme timbul sebagai reaksi dan kritik terhadap modernisme [15]). Para posmodernis menentang bukan hanya terhadap dominasi “Aku”, tetapi juga menafsirkan dominasi system sosial, politik, ekonomi, seni-budaya, arsitektur bahkan gender yang menyeragamkan manusia. Pelaku dominasi adalah system-system besar yang bersifat tunggal (the One) terhadap system-system kecil yang bersifat jamak (the plural). The One identik dengan kebudayaan Barat dan the plurals adalah kebudayaan Timur. Misalnya dominasi kebudayaan dan kesenian yang menganggap hanya musik klasik seperti dari Bach, Beethoven dan Mozart yang disebut bernilai seni tinggi. Sedangkan music tradisional seperti angklung, dangdut, gamelan dianggap bernilai seni rendah. Contoh lain arsitektur. Oleh kaum modernis, hanya arsitektur Barat gaya Spanyol yang dianggap berkualitas. Sedangkan arsitektur tradisional seperti Jawa, Batak dan sebagainya dinilai rendah. Postmodernisme memberikan penghargaan terhadap budaya-budaya local atau system yang oleh pendukung The One dianggap tidak penting.
Modernisme dalam perspektif kaum posmodernis yang lebih luas adalah Elan (semangat) yang mendorong untuk menyusun hierarki. Yang dimaksud dengan hierarki adalah tata urutan wewenang atau otoritas. Dalam hierarki itu terdapat suatu puncak kekuasaan sebagai sentral dan penentu suatu system [16]).





C.   MANUSIA DALAM PRESPEKTIF ISLAM
1.    Manusia Makhluk Berpikir
Manusia, dalam bahasa Arab disebut: “An-Nas” atau “Al-Insan”. Manusia diciptakan sebagai makhluk termulia [17]). Kemuliaan manusia terletak pada potensinya yaitu berupa fitrah imani (potensi baru Tuhan). Manusia juga diberi potensi akal dan perangkat lainnya sehingga dapat menghasilkan ilmu, budaya dan estimasi masa depan.
Dengan bekal perangkat yang lengkap, manusia mendapatkan amanah berupa tugas memelihara alam, mewujudkan kemakmuran serta menciptakan perdamaian dimuka bumi atau sebagai khalifah fil-ardhi.
Ditinjau dari segi jasmaniah, perbedaan manusia dengan binatang adalah gradual, tidak fundamental. Tetapi ditinjau dari segi ruhaniah, perbedaan antara kedua makhluk itu prinsipil. Keistimewaan ruhaniah manusia dibandingkan dengan binatang, bahwa manusia itu adalah makhluk yang berpikir, berkebudayaan, mempunyai norma dan mempunyai kebebasan. Dalam ilmu manthiq, ditemukan sebuah rumusan bahwa, “Al-Insanu Hayawanunnathiq”, manusia adalah binatang yang berpikir, dapat berkata-kata, mengeluarkan pendapat, dsb [18]).
Sejalan dengan pendapat tersebut adalah Rene Descartes yang mengatakan, “cogito ergo sum”, saya berpikir sebab itu saya ada. Jika Sartre, filsuf eksistensi Perancis mengatakan bahwa kesadaran manusia adalah bertanya yang sebenar-benarnya, maka Prof.Dr.RF. Beerling berpendapat bahwa manusia adalah tukang bertanya. Sebab orang yang bertanya adalah mencari jawaban. Mencari jawaban adalah mencari kebenaran tentang sesuatu. Kebenaran dicari melalui dua jalan: pertama, filsafat dan ilmu, kedua, agama dan wahyu [19]).
Manusia ditetapkan sebagai mandataris Allah. Karena itu, manusia mengemban tugas dan amanat yang berat, yaitu sebagai khalifah Allah di Bumi (Q.S. Al-Baqarah : 30)
Manusia bertanggung jawab atas amanat yang ditanggungnya dan juga bertanggung jawab atas penggunaan potensi dirinya. Menurut Ibnu Mansur, secara terminologi, al-Khalifah diartikan mengganti orang yang sebelumnya. Kata al khalifah berasal dari kata khalafa yang artinya menggantikan [20]).
Substansi manusia terdiri dari jasad, hayat, ruh dan nafs. Jasad merupakan aspek ragawi manusia. Abu Ishaq mendefinisikan jasad sebagai sesuatu yang tidak bisa berpikir. Al-Hayat, artinya hidup. Hidup atau kehidupan merupakan suatu bentuk perwujudan dari eksistensi manusia. Dengan kehidupan jasad menjalin koneksi dengan yang lain dalam diri manusia. Menurut M.Sujudi manusia mengandung unsur materi dan non materi. Materi atau jasad dan non materi atau ruh saling berhubungan dan saling melengkapi. Baik buruknya tingkah laku manusia ditentukan oleh sejauh mana ruh atau jiwa dapat memancarkan energi positif. Selanjutnya dimensi ragawi menerjemahkannya dalam bentuk aktivitas[21]).
Menurut Ibn Abbas, dalam diri setiap manusia terdapat dua unsur. Yaitu nafs akal yang bisa membedakan sesuatu dan nafs ruh yang menjadi unsur kehidupan. Nafs merupakan dimensi abstrak yang mewarnai dan member dorongan bagi manusia. Dalam al-Qur’an, nafs diartikan sebagai totalitas diri dan realitas pribadi. Nafs atau keakuan menurut Asy’ari, merupakan sinergitas dari jasad, hayat dan ruh. Dinamikanya terletak pada aksi atau kegiatannya. Kulminasinya bersifat spiritual yang tampak dalam aktivitas hidupnya [22]).
Menurut al-Ghazali, tentang ilmu sebagai proses, indera dan akal adalah alatnya. Terdapat dua sisi hubungan antara akal dengan indera. Satu sisi akal harus membebaskan diri dari pengaruh indera dan angan-angan atau khayalan. Tetapi dari sisi lain, akal juga memerlukan indera. Sebab inderalah yang membawa berita dari alam luar kepada akal, kemudian akal meneliti dan menilai kebenaran berita itu.
Al-Ghazali yang telah mendalami dan mengamalkan tasawuf, akhirnya berkesimpulan bahwa sufiah (kehidupan sufi) yang dapat memberi jawaban yang memuaskan tentang masalah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan yang Khalik. Al-Ghazali menegaskan ada syarat dalam cara-cara sufiah. Yaitu kesucian hati yang tertumpu kepada Allah semata, dengan cara hati tenggelam dalam zikir kepada Allah dengan penuh syahdu (khusu’), yang berakhir dengan sirna dalam keesaan Allah SWT [23]).
Manusia lahir telah membawa potensi-potensi. Pertanyaannya, potensi mana yang dikembangkan dalam pendidikan. Terhadap persoalan ini para ahli tidak menemukan kata sepakat. Pada jaman dahulu di Yunani terdapat kerajaan Sparta. Para filsuf di Sparta waktu berpendapat bahwa satu-satunya potensi manusia yang harus dikembangkan adalah jasmaninya. Pendidikan jasmani atau olah raga menjadi mata pelajaran utama. Kecerdasan dan akhlak menjadi tidak penting. Pendidikan di Sparta bertujuan untuk membentuk manusa yang kuat fisiknya agar siap berperang dan berkelahi.
Sebaliknya di Athena yang juga berada di Yunani. Filsafah pendidikannya mementingkan kecerdasan otak. Untuk mencerdaskan otak, sejak masa kanak-kanak harus belajar logika atau aturan berpikir. Dalam hal ini Aristoteles berkata bahwa hanya filsuf saja yang berhak memerintah Negara, sebab hanya mereka yang memiliki kecerdasan dan kepintaran. Asalkan kecerdasan berkembang cukuplah. Sebab itulah satu-satunya potensi yang dianggap penting di masyarakat Athena [24]).
Disamping jasmani dan rohani, potensi manusia tersimpul pada “Asma’ul Husna” yaitu sifat-sifat Allah yang berjumlah 99. Pengembangan sifat-sifat ini pada diri manusia merupakan ibadah dalam arti luas. Sebab tujan manusia diciptakan adalah untuk beribadah atau menyembah Allah. Agar manusia mencapai tingkatan beribadah yang sempurna, sifat-sifat Allah yang 99 ini dikembangkan pada dirinya dengan sebaik-baiknya [25]).
Memasuki abad ke-21 manusia banyak menghadapi tantangan. Ronald Higgins (1978) menyimpulkan ada tujuh ancaman yang dihadapi manusia. Pertama, ledakan penduduk. Kedua, krisis pangan. Ketiga, krisis sumber daya alam. Keempat, makin menurunnya kualitas lingkungan. Kelima, ancaman nuklir. Keenam, manusia dikendalikan oleh teknologi. Ketujuh, hancurnya moral manusia.
Untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, Higgins menemukan jawabannya yaitu dibidang pengembangan rohaniah yang mampu : (1) mematahkan pemujaan manusia terhadap “Scular gods”, (2) mampu membangkitkan kesadaran bahwa manusia tidak tergantung pada bumi ini/hidup di dunia ini, (3) menjalin persandaran rohaniah yang kukuh antara sesama manusia untuk memecahkan tantangan dan permasalahan di jaman ini dan yang akan datang [26]).
PENUTUP
            Manusia adalah makhluk educable, yang dapat dididik dan mendidik. Manusia lahir telah diberi potensi-potensi sebagai bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan. Potensi-potensi itu adalah : akal dan kalbu serta panca indera. Untuk dapat mendayagunakan dan mengembangkan potensi-potensi itu, manusia membutuhkan pendidikan.
Pendidikan saat ini menjadi alternatif untuk memecahkan berbagai persoalan. Sebagai dasar dan sumber pendidikan Islam adalah wahyu yang mengandung kebenaran absolut. Namun pendidikan Islam perlu berinteraksi dengan ragam budaya dan peradaban. Islam sebagai agama terbuka demikian juga pendidikan Islam dalam implementasinya pada tatanan praktis, dapat menerima inovasi-inovasi dan hal-hal lain yang positif dan luas.
Konsekuensinya, pendidikan Islam mengalami transformasi, dengan keyakinan bahwa harus berani melakukan perubahan bila ingin berkembang dan maju. Perubahan system pendidikan Islam diilhami oleh norma-norma agama (Islam) dan inovasi yang berkembang dalam dunia pendidikan pada umumnya. Keterpaduan antara nilai-nilai yang bersumber dari wahyu (Allah) dan inovasi yang berakar dari  kreativitas manusia melahirkan pendidikan Islam unggulan. Harapan kita pendidikan Islam yang bermula berupa pengajian-pengajian di mesjid, mushala, pesantren, diniyah dan madrasah berkembang menjadi institusi pendidikan Islam yang berprestasi tinggi memiliki daya saing; berpengaruh dan diperhitungkan.
WALLAHU A’LAM BI ASH-SHAWAB
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdurrahman an-Nahlawi. Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam.Cet. ke 1.
            Terjemahan Herry Noer Ali.
            Bandung : CV Diponegoro, 1989.      
Abudin Nata, Prof.Dr.H.M.A, Ilmu Pendidikan Islam Dengan Pendekatan Multidisipliner
Cet. Ke 1. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2009.
Abdul Madjid dkk. Al-Islam 1. Cet. Ke 3.
            Malang : Lembaga Studi Islam .Kemuhammadiyahan, University Muhammadiyah Malang, 1995.
Ahmad Taufiq dkk (Penyunting). Pendidikan Agama Islam. Cet. Ke 1. Surakarta : Yuma Pustaka, 2010.,
Endang Saifuddin Anshary , MA. Kuliah Al-Islam. Cet. Ke 1. Jakarta:CV Rajawali, 1986.  
Hasan Langgulung, Prof. Dr. Manusia dan Pendidikan. Cet.Ke 1. Jakarta:Pustaka Al-Husna, 1986.
Muhaimin, Prof.Dr.M.A. Rekonstruksi Pendidikan Islam. Cet. Ke 1. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009.
Jusuf Amir Faisal, Prof. Dr. Reorientasi Pendidikan Islam. Cet. Ke1.
            Jakarta : Gema Insani Press, 1995.
Paul Suparno, Dr. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Cet. Ke 9.
            Yogyakarta : Kanisius, 2011.
Soekarno dkk. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam. Cet. Ke 1. Bandung: Angkasa, 1883.
Teguh Wangsa Gandhi HW. Filsafat Pendidikan. Cet. Ke1.
            Jogjakarta : Ar. Ruzz Media, 2011.
Umiarso dkk. Pendidikan Pembebasan. Cet. Ke 1.
Jakarta : Ar Ruzz Media, 2011.
Zainal Abidin, Filsafat Manusia. Cet. Ke 5.
            Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009.



[1] Soekarno dkk. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Angkasa,1983), hal.5.
[2] Zainal Abidin, Filsafat Manusia, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009), hal.25
[3] Stanley M.Hores dan Thomas C.Hunt, dalam Jujun S.Suria Sumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2001), hal.66.
[4] Nama lengkapnya Gottfried Wilhelm Leibniz. Di jerman ia dianggap pemikir besar yang memiliki pengetahuan sangat luas dalam bidang filsafat, matematika, sains, sejarah dan teologi. Ia dan Isaac Newton dinyatakan sebagai ahli yang mengembangkan pembedaan kalkulus. Pemikiran filsafatnya sering disebut Monadologi. Lihat Teguh Wangsa Gandhi HW, Filsafat Pendidikan, (Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011),hal 128-129
[5] Zainal Abidin, Filsafat Manusia, hal, 28.
[6] Maftuh Ahnan, Filsafat Manusia, (Surabaya:CV Bintang Pelajar, 1995), hal.185.
[7] Teguh Wangsa Gandhi HW, Filsafat Pendidikan, hal 140-141.
[8] Zainal Abidin, Filsafat Manusia, hal, 32 dan 62.
[9] Ibid, hal. 144-146
[10] Ibid, hal. 152-153
[11] Ibid, hal. 140-141
[12] Ibid, hal. 181-183
[13] Diantara filsuf yang dikategorikan kedalam aliran eksistensialisme adalah Martin Heidegger sekalipun ia menolak anggapan itu. Sebab sasaran dan titik tolak penyelidikan Heidegger pada akhirnya adalah pada eksistensi manusia. Tokoh eksistensialisme yang lain adalah Jean Paul Sartre, dengan dua tema filsafatnya “kebebasan” dan “ada”. Lihat Zainal Abidin, “Filsafat Manusia”, hal. 167-169 dan 186-189. Lihat juga Teguh Wangsa Gandhi H.W. Filsafat Pendidikan. Hal. 183.
[14] Terdapat dua kategori pemikir Strukturalis.
Pertama, kaum universalis yaitu Levi Strauss dan Lacan. Levi Strauss menegaskan bahwa dibalik pelbagai fakta empiris yang beragam terdapat satu struktur mental yang universal. Lacan seorang psikoanalisis juga mengklaim adanya kuasa yang mengatur berfungsinya psiko manusia pada umumnya.
Kedua, pemikir realis Barthes, Foucault dan Derrida. Mereka bergelut dengan dimensi-dimensi pemikiran, evolusi pemikiran dalam waktu dan implikasi-implikasi dari pemikiran-pemikiran tersebut. Mereka tidak ingin melampaui subject matternya:
Lihat Zainal Abidin, Filsafat Manusia, hal, 215-219.
[15]  Modernisme adalah semangat (Elan) masyarakat intelektual sejak zaman renaissance (abad ke 18) hingga paruh pertama abad 20. Aliran ini menempatkan rasio sebagai kekuatan tunggal. Sebagaimana dikatakan Hegel, bahwa “apa yang nyata adalah rasional dan apa yang rasional adalah nyata (real)”. Max Weber menekankan pada rasionalitas dalam pembangunan dan teknologi manusiawi. Habermas lebih menekankan rasionalitas komunikasi. Mereka adalah eksponen-eksponen modernisme yang menekankan dominasi rasio dalam segenap aktivitas manusia. Modernisme adalah salah satu bentuk dari humanisme. Narasi-narasi besar modernisme berasal dari kapitalisme, komunisme, eksistensialisme dan liberalism.
Lihat Zainal Abidin, Filsafat Manusia, hal, 239-240 dan lihat juga Scott Lash, Sosiology of Post Modernism , (London : Routledge, 1991) hal.8-9.
[16] Zainal Abidin, Filsafat Manusia, hal, 239-240
[17] Q.S. AL.Isra’ (17): 70 dan Q.S. At-Tin (95):4.
[18] Endang Saifuddin Anshory, Kuliah Al-Islam,( Jakarta : CV Rajawali, 1986), hal. 4.
[19] Ibid, hal 59.
[20] Umiarso dkk, Pendidikan Pembebasan, (Jakarta : Ar.Ruzz Media, 2011) hal.66
[21] Ibid, hal.76.
[22] Ibid, hal.79-80
[23] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, hal. 134-135
[24] Ibid, hal. 262
[25] Ibid, hal 264. Lihat juga Muhammad Syafi’I Antono, Sukses Besar dengan Intervensi Allah, (Jakarta: Tazkiah Piblishing, 2008), hal. 1-9.
[26] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, hal. 265-266.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar